Sabtu, 18 Agustus 2012

Nukleoaktivitas Dan Teleportasi


quantumentanglement

Tiga hal yang sangat krusial dalam kehidupan manusia modern adalah informasi, komunikasi, dan transportasi. Menurut KBBI, informasi adalah keseluruhan makna yang menunjang amanat yang terlihat dalam bagian-bagian amanat itu, atau dengan kata lain fakta-fakta yang terkandung pada suatu objek.

Komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami, atau hubungan untuk mentransfer informasi-informasi.

Dan transportasi adalah pengangkutan barang oleh berbagai jenis kendaraan sesuai dengan kemajuan teknologi, atau dengan kata lain mekanisme komunikasi dengan cara memindahkan objek informasinya secara real. Pada abad modern ini, informasi dan komunikasi mengalami perkembangan sangat signifikan, sedangkan transportasi masih menyisakan persoalan-persoalan serius berkaitan dengan isu lingkungan dan efektifitasnya.


Teknologi informasi dan komunikasi telah berhasil diintegrasikan dengan baik, sedangkan teknologi transportasi masih separatis.
Beberapa sutradara film ilmiah telah bermimpi menyatukan teknologi informasi, komunikasi, dan transportasi. Salah satu konsep terkenal yang menyatukan ketiga teknologi tersebut adalah teleportasi. Akankah teleportasi itu bisa menjadi kenyataan? Mungkin saja teleportasi akan menjadi kenyataan, jika rahasia kestabilan sistem atom ditemukan.

Paradoks EPR
Masih ingat subjek tentang nukleoaktivitas? Nukleoaktivitas adalah sumber interaksi yang terletak di setiap inti, bahkan ia bisa menjadi dapur pembentukan partikel jika sistem nukleoaktivitasnya cukup besar. Inti yang dimaksud di sini mencakup inti pada partikel-partikel dalam skala paling kecil, misalnya foton, kuark, dan neutrino sampai pada partikel-partikel dala skala paling besar, misalnya super-bintang di pusat galaksi dan cluster galaksi.

Pembentukan nukleolaktivitas sendiri berasal dari gumpalan gelombang elementer yang saling berinterferensi, bersuperposisi, dan berpolarisasi, yang lama-lama membesar dan mampu melakukan aktivitas independen.

Masih ingat juga perseteruan Einstein dan Bohr dalam Paradoks EPR? Pada tahun 1935, Einstein, Podolsky, dan Rosen melakukan antitesis untuk meruntuhkan Prinsip Ketidakpastian dalam Mazhab Kopenhagen (mazhab teori kuantum yang dibangun Bohr).

Dalam mazhab itu dinyatakan bahwa kita tidak bisa mendapatkan informasi yang sangat teliti terhadap aktivitas suatu partikel disebabkan adanya ketidakpastian dalam satu-satunya cara pengamatan kita. Medium observasi (frekuensi cahaya) akan selalu mengganggu variabel-variabel partikel yang dikehendaki, misalnya posisi dan momentum, atau energi dan waktu.

Percobaan EPR memisalkan ada dua elektron dalam keadaan tunggal. Keduanya bergerak menjauh. Dalam arah tertentu, spin A ditemukan dalam keadaan atas. Karena kedua spin harus saling meniadakan, maka dalam arah yang sama spin B harus bawah. Menurut Mazhab Kopenhagen, spin A selalu tidak pasti sampai ia diukur dan harus mempengaruhi B seketika itu juga, yaitu mengatur agar spin B bawah. Ini berarti ada aksi pada jarak atau komunikasi yang lebih cepat dari cahaya, yang tidak bisa diterima. Paradoks ini kemudian memunculkan prinsip lokalitas, yakni pemisahan antara pengamat dan objek itu dalam sistem-sistem individual.

Beberapa percobaan dalam empat dekade selanjutnya, misalnya percobaan John Clauser pada 1978 di Berkeley dan percobaan Alain Aspect pada 1982 di Paris, ternyata menemukan fenomena non-lokal, yang berarti mengukuhkan Mazhab Kopenhagen.

Bagaimana nukleoaktivitas menjelaskan fenomena non-lokal? Setiap nukleoaktivitas mempunyai kemampuan berinteraksi dengan nukleaotivitas lainnya. Komunikasi yang terjadi akan menciptakan frekuensi unik yang hanya bisa dipahami dua atau beberapa nukleoaktivitas yang saling berinteraksi. Frekuensi unik inilah yang menyebabkan stabilitas sistem atom dalam kondisi non-lokal.

Kalau kita menengok cara nukleoaktivitas berinteraksi, paradoks EPR bukanlah paradoks. Frekuensi unik yang terbentuk dalam interaksi antar-nukleoaktivitas akan terus menghubungkan komunikasi mereka seberapa pun jarak yang memisahkan mereka. Jangan-jangan, kestabilan sistem yang terbentuk oleh frekuensi inilah yang membuat sifat non-lokal alam semesta, karena frekuensi ini akan selalu eksis dalam cara dua partikel berinteraksi meskipun mereka dipisahkan sejauh diameter semesta. Setiap partikel memiliki memori abadi dalam sejarah interaksi mereka dengan partikel-partikel lainnya. Mereka akan selalu terkait. Layaknya sebuah foto yang kita sobek-sobek. Sobekan-sobekan itu memiliki sejarah gambar utuh yang masih terikat satu sama lain sampai kapan pun.

Arah Balik Entropi
Entropi adalah keseimbangan termodinamis, terutama mengenai perubahan energi, yang hukumnya disebut Hukum Termodinamika Kedua, yang menyatakan bahwa energi hanya dapat berpindah dari tempat yang mengandung banyak energi ke tempat yang kurang mengandung energi.

Para fisikawan curiga bahwa dalam siklus kekekalan energi, panas adalah bentuk energi kinetik terakhir sebelum berubah menjadi energi potensial lagi. Misalnya dalam aliran energi yang melalui penanak nasi. Energi dari perubahan medan magnet generator PLN akan diteruskan elektron-elektron dalam covalent bond atom-atom pada kabel sebagai listrik. Listrik yang dimaksud memasuki rangkaian elektronika dalam rice cooker, sehingga ia menyebabkan elektron-elektron dalam elemen panasnya terus berpusing.

Berpusingnya elektron-elektron itu menciptakan panas yang merambat melalui teflon dan mengubah struktur molekul beras dan air menjadi nasi. Sisanya menguap ke udara, dan menjadi energi potensial lagi di sela-sela kolong alam semesta. Mekanisme serupa terjadi hampir di setiap aliran energi, yang disebut entropi.
Alam non-lokal menghendaki bahwa energi-energi potensial itu mengandung desain alam semesta, dalam bentuk frekuensi unik nukleoaktivitas. Desain ini bisa diwujudkan kembali dengan memutar balik arah waktu ke masa lalu, atau dengan cara membalikkan arah entropinya. Ini artinya kita masih punya kesempatan besar untuk menyatukan kembali potongan-potongan foto yang telah dicabik-cabik. Para ilmuwan sebetulnya telah menyadari hal ini. Namun, mereka mendapatkan input energi yang sangat besar dalam proses pembalikkan entropi, karena kita tidak tahu kemana dan dimana partikel-partikel yang terpencar bersembunyi.

Bayangkan bagian-bagian tubuh Anda dicerai-beraikan menjadi foton-foton, kemudian dimasukkan ke dalam serat optik. Sepersekian detik kemudian foton-foton tubuh Anda mencapai Silicon Valley, lalu digabungkan kembali menjadi diri Anda yang utuh. Mungkinkah? Mungkin saja..kalau para fisikawan itu tidak melupakan sifat non-lokal alam.

Variabel ini akan memberikan kita cara terbaik untuk menemukan partikel-partikel yang bersembunyi di balik belantara galaksi. Dan bisa jadi, inilah cikal-bakal teknologi teleportasi, sinergi tiga teknologi paling penting abad ini: informasi, komunikasi, dan transportasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar